Untuk Perempuan Setelah Kami: Sebuah Harapan yang Kami Rawat

RANGKAI INSPIRASI #2

Gita Dewantry

3/8/20263 min read

Woman in white dress holding flowers in a field.
Woman in white dress holding flowers in a field.

Di keluarga kami, patriarki tidak hadir dengan lantang, keras, menindas, dan teriak-teriak. Tidak ada kebencian, komentar tajam, atau larangan mengejar mimpi untuk perempuan.

Tapi patriarki masih hadir dalam sunyi melalui adat, tradisi, nilai-nilai yang mengakar dan sulit sekali untuk dilucuti. Ia telah hidup bertahun-tahun lamanya: laki-laki menyetujuinya dan perempuan dengan patuh menyepakati.

Tidak ada yang pernah benar-benar membicarakan… Kenapa anak-anak perempuan juga bersekolah tetapi harus selalu jadi yang membersihkan piring kotor bekas makanan ketika anak laki-laki tidak, anak-anak perempuan juga bermimpi tetapi juga terus diingatkan untuk mengurusi rumah tangga dan tugas-tugas merawat lainnya, ketika laki-laki tidak perlu.

Untuk waktu yang lama, aku bertanya-tanya kenapa keahlian merawat itu hanya perempuan yang bisa, boleh, dan menanggungnya? Dan jawaban yang aku dapatkan hanya: memang sudah begitu adanya, sudah menjadi kodratnya.

Di hari lain, dalam sebuah acara adat keluarga yang telah berkali-kali kujalani, aku baru menyadari bahwa nilai ini ditanamkan bahkan sejak bayi. Dalam acara aqiqah keponakan perempuanku, salah satu prosesi yang dilakukan adalah membawa bayi masuk ke rumah sambil ditanya, “Lagi apa?” Kemudian para tetua menjawab, “sedang masak, sedang beres-beres” untuk anak perempuan, dan “sedang belajar” untuk anak laki-laki.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menyadari bahwa perbedaan jawaban ini dianggap kecil dan wajar karena telah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Aku tidak meneriakkan bahwa ini hasil budaya patriarki yang mengakar. Namun, sehari sebelum acara, aku dan kakak perempuanku meminta kepada salah satu tante agar jawaban “sedang belajar dan berkarya” diteriakkan dalam prosesi aqiqah keponakan kami. Dan ternyata tante-tante menyetujuinya.

Dalam dunia yang ideal, aku membayangkan ruang domestik dan ruang publik tidak lagi dipisahkan berdasarkan peran gender, melainkan pilihan dan kesepakatan. Perempuan tidak perlu merasa bersalah ketika memilih berkarya di luar rumah, dan laki-laki tidak kehilangan martabat ketika memilih mengurus rumah tangga. Peran menjadi cair, dapat dinegosiasikan, dan tidak diwariskan sebagai beban turun-temurun.

Anak-anak tidak tumbuh dengan narasi peran gender yang sempit. Mereka tidak dikenalkan dengan masa depan yang ditentukan oleh nilai sosial, tetapi dibesarkan dengan kemungkinan yang luas. Imaji ini bukan tentang menghapus tradisi, melainkan memberi makna baru bahwa merawat adalah tanggung jawab semua manusia, begitu juga ambisi dan berdiri di ruang-ruang publik.

Apa yang terjadi dalam keluarga kami bukanlah cerita yang unik; ia hidup dalam banyak rumah yang tampak setara di permukaan. Aku beruntung memiliki kesadaran ini, dan sebagian orang mulai mengalami hal serupa ketika peran gender perlahan cair melalui kesepakatan dan pilihan. Tapi aku percaya perempuan yang menahan ambisi karena beban dari peran ganda masih jauh lebih banyak.

Di dunia yang lebih baik, aku ingin mereka bebas memilih.

Aku tentu membayangkan sebuah revolusi besar: kesetaraan gender, ruang aman bagi perempuan, upah yang layak, matinya misoginisme, dan tidak ada lagi kekerasan seksual terhadap perempuan. Perubahan besar-besaran memang betul kita butuhkan, tetapi ia tidak selalu lahir dari gemuruh gerakan yang terlihat dari jauh.

Aku membayangkannya tumbuh dari perubahan kecil yang dilakukan berulang-ulang: dari bahasa yang kita pilih di rumah, dari cara kita membagi kerja merawat, dari keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan. Membebaskan perempuan masa depan dari peran ganda yang menghabisi mereka pelan-pelan.

Perubahan itu mungkin dimulai dari ruang makan keluarga, dengan memberikan ruang untuk anak berlatih menegosiasikan peran: berbagi tugas domestik secara sadar, meminta bantuan tanpa rasa bersalah, dan memberi ruang bagi laki-laki untuk merawat tanpa dianggap melanggar maskulinitasnya.

Kesadaran sering hadir bukan melalui perdebatan, melainkan melalui ruang aman untuk bertanya. Dari ruang keluarga dapat meluas ke komunitas melalui pembiasaan, perubahan bahasa dan simbol, serta dialog yang aman dan reflektif. Tidak semua orang akan langsung sepakat. Tidak semua tradisi dapat diubah dalam satu waktu. Karena itu, perubahan perlu dirawat, dipupukkan, dan disirami agar ia tumbuh.

Perubahan yang kuminta pada prosesi aqiqah keponakanku adalah bagian dari harapan besar bagi perempuan masa depan, untuk keponakanku dan semua perempuan setelahku. Aku ingin mereka tumbuh menjadi diri mereka seutuhnya, tanpa didefinisikan oleh aturan yang mengikat dan menumbuhkan rasa bersalah ketika ingin lebih. Aku ingin mereka berani: berani belajar, berani bertanggung jawab, dan mampu membuat pilihan untuk dirinya sendiri.

Aku membayangkan ruang makan keluarga tempat anak laki-laki bangkit lebih dulu mencuci piring, bukan karena membantu, tetapi karena mengetahui itu bagian dari hidup bersama. Dan anak perempuan duduk kembali membaca buku tanpa merasa bersalah.

Aku berharap percakapan sehari-hari berubah: merawat bukan kodrat perempuan, kepemimpinan bukan hak istimewa laki-laki, empati bukan kelemahan, dan ambisi bukan ancaman.

Aku ingin dunia ideal yang ramah dan menyayangi perempuan datang dengan segera. Aku sudah pernah mengatakan ini di tulisan yang lain, tetapi aku ingin mengatakannya berkali-kali lagi: dunia ideal itu tidak akan lebih sulit lahir jika hanya perempuan yang berjuang menciptakannya.