Perempuan yang Mencari Rasa Aman di balik Luka yang Belum Selesai
RANGKAI INSPIRASI #2
Griona Yuniasfira Baturante
3/8/20262 min read
Halo, namaku Ona.
Aku ingin berbagi pengalaman sebagai seorang perempuan yang pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan, sebuah pengalaman yang meninggalkan rasa takut yang tidak mudah hilang, bahkan hingga hari ini.
Sejak saat itu, rasa aman terasa seperti sesuatu yang jauh. Ada ketakutan yang datang tanpa aba-aba, bahkan di ruang-ruang yang seharusnya terasa aman bagi orang-orang.
Pengalaman itu mengubah banyak hal dalam diriku. Tanpa sadar, aku jadi selalu berusaha menjaga diri dengan caraku sendiri, mencari sesuatu yang bisa membuatku merasa sedikit lebih terlindungi, walau mungkin tidak semua orang akan sepakat dengan hal ini.
Salah satu dampak dari kejadian itu terjadi saat aku sedang menemani paman berobat di rumah sakit mata di Makassar. Pamanku akan dioperasi pada petang hari dan mengharuskan kami menginap. Keesokan paginya, dengan mengenakan hoodie oranye dan celana pendek hijau tua, aku duduk menunggu proses administrasi pengobatan pamanku di lobi rumah sakit.
Kemudian hal itu terjadi...
Tiba-tiba, seorang ibu paruh baya memotretku tanpa izin, padahal ada larangan jelas di area tersebut. Aku bangkit berdiri, menanyakan maksud ibu tersebut, “Saya tidak foto ibu, kenapa ibu foto saya?”. Ibu tersebut terkejut, masih memegang ponselnya yang layarnya menampilkan diriku duduk menyilang kaki. “Mau saya kirimkan ke suami saya”, ujar ibu tersebut.
Kaki yang kusilangkan, aku angkat ke lutut, gaya duduk yang umumnya diperagakan laki-laki. Sepertinya, caraku duduk, caraku berpakaian, itu yang membuatnya terganggu. Entah apa alasannya, aku juga tidak mendapatkan jawaban.
Rupanya penghakiman tersebut tidak hanya datang dari ibu yang memotretku.
Tak lama kemudian seorang laki-laki muncul, menatap tubuhku dengan tatapan yang membuatku tidak nyaman. Aku sempat memprotes tindakannya, tetapi ia mengelak. Di momen itu, pengalaman yang pernahku alami seperti terulang kembali dalam tubuhku. Bukan hanya tentang kejadian saat itu, tapi juga ingatan lama yang tiba-tiba terasa sangat dekat. Rasa takut itu muncul begitu nyata, dan sulit untuk kukendalikan.
Tanpaku sadari, tanganku sudah menggenggam sesuatu dari dalam saku hoodie—sesuatu yang selama ini kubawa untuk merasa lebih aman. Sebuah pisau kecil. Aku menampakkannya sejenak. Tak lama, aku kemudian menyimpannya kembali.
‘Itu dia bawa pisau!’’
Laki-laki itu mengadukanku dengan panik, namun para satpam tidak mengubrisnya. Di tengah tatapan orang-orang di sekitar, laki-laki itu memilih pergi.
Dari peristiwa tersebut, aku memiliki sebuah imaji.
Di momen itu, aku hanya berpikir betapa pengalaman masa lalu bisa terus hidup dalam diri seseorang, bahkan ketika ia sedang berusaha menjalani hari seperti biasa. Betapa seharusnya perempuan bisa merasa aman tanpa perlu membawa apa pun untuk melindungi dirinya setiap kali keluar rumah. Setiap perempuan seharusnya juga bebas mengenakan apa yang ia inginkan. Selayaknya para lelaki mengenakan celana pendek ke berbagai acara, para perempuan pun sama. Sepanjang apa yang ia pakai masih sesuai dengan norma yang berlaku.
Dalam imajiku, aku juga membayangkan masyarakat yang tidak menghakimi perempuan. Karena yang sesungguhnya dibutuhkan oleh seorang perempuan adalah dukungan atas tindakan benar yang ia lakukan. Sehingga perempuan tidak perlu lagi merasa takut untuk “hadir” dalam dunianya.
Untuk mewujudkan imaji tersebut…
Aku ingin mengedukasi sesama perempuan, dari lingkungan terdekatku terlebih dahulu. Terutama perempuan yang memiliki pengalaman serupa denganku. Dihakimi dan dilecehkan hanya karena penampilan yang tidak sesuai standar mereka.
Bagiku, bentuk perlindungan diri seorang perempuan adalah ketika ia sudah teredukasi, kemudian dapat berdiri untuk dirinya sendiri dan bisa mengedukasi perempuan-perempuan lainnya. Semakin banyak edukasi yang disebarkan, semakin banyak kepedulian tumbuh. Puncaknya, setiap perempuan bisa mengadvokasi dirinya sendiri untuk mendorong kebijakan hukum agar diimplementasikan dengan adil dan setara. Sehingga tak perlu membawa pisau kemanapun ia pergi sebagai perlindungan diri.
Semoga ceritaku ini bisa menjadi merefleksi untuk kita semua, dan tentunya aku juga bisa terlepas dari belenggu rasa takut dan rasa tidak aman ini.
Generasi PINTAR
More Empathy, Less Apathy
Kontak Kami
© 2025. All rights reserved.
Yogyakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia
