Perempuan yang Bertumbuh di Atas Angka

RANGKAI INSPIRASI #2

Raden Nasya Indah Puspita

3/8/20262 min read

a person in a dress holding a bouquet of flowers
a person in a dress holding a bouquet of flowers

“Kapan menikah?”

Pertanyaan itu terus menerus terlontar setelah usiaku melewati 25 tahun. Semua mimpi dan rencana hidupku perlahan dipaksa bergeser oleh satu topik yang sama. 

Seolah-olah setelah usia tertentu, langkah perempuan harus melambat dan tujuannya dipersempit.

Seolah hidup perempuan memiliki batas waktu yang tidak pernah benar-benar disepakati.

Kekecewaan itu tidak datang dalam bentuk amarah, melainkan kelelahan batin yang sunyi.

Aku melihat banyak perempuan hebat di sekitarku,cerdas, peduli, dan aktif, namun perlahan kehilangan ruang. Bukan karena mereka berhenti berkembang, tetapi karena usia mereka dianggap sudah “waktunya”. Perempuan sering diposisikan seolah produktivitasnya memiliki tanggal kedaluwarsa.

Dari situlah pertanyaan lain muncul dalam pikiranku. Apakah benar hidup perempuan hanya dinilai dari status dan perannya di rumah? Mengapa mimpi, perjalanan belajar, dan kontribusi kami tiba-tiba dianggap kurang penting setelah melewati usia tertentu? Padahal hidup seharusnya tetap menjadi ruang bertumbuh bagi siapa pun.

Aku menyadari bahwa yang paling menyakitkan bukan hanya tekanan untuk menikah. Yang lebih menyakitkan adalah hilangnya pengakuan atas potensi. Perempuan usia 25+ sering kali tidak lagi dilihat sebagai individu yang sedang berkembang. Padahal justru di usia itulah banyak dari kami mulai benar-benar mengenal diri sendiri. 

Dan aku tidak ingin tinggal diam dalam kekecewaan itu. Di tempat ini, tidak ada lagi pertanyaan tentang “kapan”, melainkan “apa yang ingin kamu lakukan”. Perempuan tidak dinilai dari pilihan hidupnya. Apakah menikah, belum menikah, atau sudah menjadi ibu. Semua diperlakukan setara sebagai manusia yang terus bertumbuh. Di sini, usia bukan batas, tetapi pengalaman.

Ekosistem ini diisi oleh kegiatan yang beragam dan bermakna. Ada ruang belajar, ruang berkarya, dan ruang beristirahat tanpa rasa bersalah. Perempuan bisa mengikuti pelatihan, diskusi, kegiatan sosial, atau sekadar berbagi cerita. Setiap orang datang membawa kisahnya masing-masing. Mereka pulang dengan satu hal yang sama: rasa diterima.

Aku ingin ruang ini terasa aman dan hidup bagi siapa pun. Bukan hanya untuk perempuan muda, tetapi juga untuk ibu-ibu dan lansia yang masih ingin aktif. Semua perempuan memiliki hak untuk terus bergerak, berkontribusi, dan merasa berarti. Tidak ada tuntutan untuk menjadi apa pun selain diri sendiri. Ruang ini adalah rumah bagi proses, bukan tekanan.

Aku memulai dengan menciptakan kegiatan produktif yang inklusif. Ada kelas keterampilan, ruang diskusi karier, kegiatan sosial, dan proyek kolaboratif yang bisa diikuti siapa saja. Tidak ada batas usia dan tidak ada label status. Yang ada hanyalah semangat untuk bertumbuh bersama. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Selain itu, aku membangun ruang cerita dan support group. Di tempat ini, perempuan dapat berbagi kegelisahan, kegagalan, dan harapan tanpa harus terlihat “baik-baik saja”. Mendengar dan didengar menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Dari percakapan yang jujur itulah lahir rasa saling memahami. Perlahan, cerita-cerita tersebut menumbuhkan solidaritas.

Aku juga menginisiasi kampanye bertajuk “Perempuan Bisa Berdaya”. Kampanye ini menyuarakan bahwa perempuan tidak berhenti berguna setelah usia tertentu. Aku ingin pesan ini tersebar luas dan menantang stigma yang membatasi perempuan pada satu peran saja. Perempuan memiliki banyak kemungkinan dalam hidupnya. Suara kolektif perempuan adalah kekuatan perubahan.

Perempuan usia 25+, 35+, bahkan 50+ tetap dihargai sebagai individu yang aktif dan bermakna. Tidak ada lagi batasan usia yang mempersempit peran perempuan hanya pada pernikahan dan anak. Pilihan hidup perempuan dihormati, bukan dipertanyakan. Setiap perempuan dipandang sebagai pribadi yang terus bertumbuh.

Aku membayangkan ruang-ruang seperti ini tumbuh di banyak tempat. Ruang yang hidup, berkelanjutan, dan dikelola bersama oleh perempuan lintas usia. Ruang yang membuktikan bahwa produktivitas tidak mengenal batas waktu. Semua perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk terus bergerak. Dari ruang-ruang kecil itulah perubahan sosial dapat tumbuh.

Aku ingin perempuan merasa bebas menjadi dirinya sendiri di usia berapa pun. Bebas belajar, berkarya, mencinta, dan memilih jalannya sendiri. Tidak ada lagi rasa takut dianggap terlambat.

Karena menjadi perempuan tidak pernah berarti berhenti tumbuh.