Memahami Perjuangan Anak Broken Home: Ada Luka di Balik Kemandirian

ARTIKEL RUTIN

Anggi Widi Shafira

10/4/20263 min read

Wilted flowers droop inside a vase
Wilted flowers droop inside a vase

Istilah broken home saat ini nggak hanya merujuk pada keretakan status pernikahan orang tua saja, melainkan juga mencakup dinamika keluarga yang disfungsional, penuh konflik, maupun kurangnya dukungan emosional di dalam rumah. Kondisi ini tentu bukan hanya memengaruhi tatanan keluarga, namun juga perkembangan kepribadian seseorang–dalam mengatur emosi dan pengambilan keputusan.

Banyak anak yang tumbuh dalam kondisi keluarga broken home dipaksa “menjadi dewasa sebelum waktunya” karena mereka harus menghadapi trauma kehilangan satu–bahkan dua sekaligus–yang seharusnya mengisi kehidupan mereka. Sedikitnya waktu bersama orang tua, membuat mereka cenderung untuk melakukan semuanya sendiri tanpa asuhan dan bantuan dari orang tua. Kondisi ini memunculkan sifat terlalu mandiri atau dikenal dengan ungkapan hyper-independent.

Menjadi terlalu mandiri sebagai perlindungan

Tentunya, kondisi ini menjadi salah satu tantangan berat yang dapat memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang. Ketika mereka kehilangan salah satu–bahkan keduanya sekaligus, ada beberapa bagian yang hilang dari dirinya, yang mungkin nggak terasa saat mereka kecil, namun akan tercermin seiring bertumbuh dewasa. Akhirnya mereka terpaksa memendam dan melakukan semuanya sendirian karena takut kecewa, dimarahi, diabaikan bahkan dianggap merepotkan.

Mereka sering merasa bahwa konflik orang tua adalah kesalahan yang harus mereka tanggung. Pikiran seperti “ayah pergi karena aku nakal” atau “ibu memukulku karena aku menangis saat ayah pergi” sering muncul dan berkembang hingga mereka merasa kesulitan untuk memahami dan mengekspresikan emosi. Mereka pun sering menyembunyikan perasaan yang dirasakan dan belajar lebih memahami perasaan orang lain, demi bisa diterima oleh orang di sekitarnya.

Mereka akan memilih untuk mengandalkan dirinya sendiri, karena merasa sulit meminta bantuan dan sungkan kalau harus merepotkan orang lain. Bisa dikatakan, menjadi mandiri adalah mekanisme perlindungan diri atau defense mechanism untuk mereka membangun ketahanan mental dan melindungi dirinya sendiri dari rasa kecewa, diabaikan, dan dianggap merepotkan.

Pembuktian kemandirian lewat prestasi

Nah, selain itu, bentuk kemandirian mereka yang berlebihan juga digambarkan dengan cara mengejar validasi lewat pencapaian prestasi. Ketika rumah nggak lagi menjadi tempat yang aman atau suportif, aspek kehidupan lain seperti sekolah atau karier sering kali dijadikan pelarian untuk membuktikan harga diri agar bisa merasa “cukup” dan layak dihargai. Mereka pun akan terus mengejar nilai bagus, aktif organisasi, sibuk berkarya dan memiliki kewajiban untuk sukses dalam kariernya. Secara nggak sadar, mereka memaksa menjadi lebih “keras” kepada diri sendiri untuk mencapai kesuksesan di masa depan.

Hal ini dilakukan tak lain untuk memberikan rasa aman dan kesempatan untuk memperoleh penghargaan, yang mungkin nggak mereka dapatkan dalam lingkungan keluarga. Dalam konteks pencapaian, tentu hal ini membanggakan karena berusaha untuk menggapai apa yang diimpikan. Namun, kondisi ini bisa jadi lebih berat karena mereka akan merasa tertekan dengan tuntutan yang kurang ideal. Keberhasilan yang ingin mereka tuju bukan hanya tentang mencapai tujuan, tapi juga menjadi upaya untuk mengisi kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

Nah, penting untuk dipahami, kebiasaan untuk merasa semua bisa dilakukan sendiri dan terus-menerus memaksa diri menunjukkan pencapaian agar mendapatkan validasi, itu nggak baik. Kondisi tersebut membuat kita capek secara mental. Sebab tanpa sadar, justru kita akan semakin menemui perasaan takut gagal yang akan sulit kita hindari. Padahal kenyataannya, kamu tetap berharga meskipun sedang gagal, lelah, atau belum mencapai semua target hidupmu. Terpenting, belajar mengelola perasaan agar nggak terus-menerus membebani diri dengan tuntutan yang kita buat sendiri.

Meruntuhkan Topeng Si Paling Kuat dan Belajar Menerima Dukungan

Di balik kemandirian, sebagian anak broken home masih menyimpan luka emosional yang nggak terlihat. Ada yang kesulitan mempercayai orang lain, takut ditinggalkan, atau bahkan merasa harus selalu kuat. Dukungan dari keluarga besar, sahabat, pasangan, guru, atau tenaga profesional memiliki peran penting dalam hal ini.

Sebab, kebiasaan “si paling kuat” yang mandiri dengan selalu merasa “aku nggak apa-apa”, nantinya justru akan membuat burnout, menurunkan kesehatan fisik, meningkatkan risiko depresi, dan menurunkan kualitas hidup sosial. Menjaga kemandirian memang penting, tapi juga harus ada kesadaran diri untuk paham jika membutuhkan bantuan orang lain. Mengingat, kita pun sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan.

Nah, ada beberapa tips nih Gens, untuk mengelola hyper-independence:

  1. Paling utama, menyadari dan mengakui perilaku hyper-independence akan sangat melelahkan.

  2. Kedua, mengelola emosi secara sehat dengan melakukan aktivitas sederhana, seperti journaling atau meditasi.

  3. Jika dirasa masih belum cukup, bisa memulai meminta bantuan yang diawali dengan membangun rasa percaya pada orang lain terlebih dahulu. Lalu, coba berbagi beban dengan cara bercerita secara bertahap.

  4. Terakhir, jika kondisi hyper-independence sudah sangat mengganggu kegiatan sehari-hari, sudah saatnya meminta bantuan profesional, seperti konselor atau psikolog.

Gens, perlu disadari dulu sebelumnya, bahwa menerima dukungan bukan berarti kamu terlihat lemah dan gagal menjadi mandiri. Proses sembuh dari trauma masa kecil bukan dengan cara menjadi “sok kuat”, melainkan dengan menyadari bahwa dirinya juga butuh dukungan dan kasih sayang yang sehat.

Pada akhirnya, kemandirian dengan menjadi “si paling kuat” dan mengejar validasi lewat prestasi, memang dapat membuka banyak kesempatan. Namun, penyembuhan luka emosional nggak selalu datang dari kemandirian dan penghargaan atau pencapaian.

Rasa berharga yang paling kokoh justru tumbuh ketika seseorang mampu menerima dirinya. Kalau sampai hari ini kamu masih merasa harus selalu kuat, perlu diingat, kamu sudah menjadi manusia yang berharga apapun kondisinya. Sebab, hidup bukan tentang siapa yang paling kuat menahan semuanya sendirian. Melainkan, menjadi manusia yang sehat secara mental dengan mengakui kelemahan, tahu waktu yang tepat untuk istirahat, dan tahu waktu yang tepat meminta bantuan kepada orang lain.

Generasi PINTAR

More Empathy, Less Apathy

Kontak Kami

© 2025. All rights reserved.

E-mail

Yogyakarta, Indonesia

Jakarta, Indonesia