Melampaui Batas Stereotip
RANGKAI INSPIRASI #2
Rifani Fauziah
3/8/20262 min read
Hai, aku Rifani! Dulu aku bukan tipe siswa yang aktif di luar kelas. Tapi di dalam diriku selalu ada dorongan kecil: aku ingin berkembang, punya pengalaman, dan membangun relasi. Akhirnya aku memberanikan diri ikut kegiatan sekolah, berjalan mengikuti proses sambil memegang satu prinsip sederhana, yaitu melakukan yang terbaik tanpa menuntut diri menjadi sempurna. That simple, kan?
Sampai suatu hari, tanpa ambisi apa pun, namaku muncul sebagai kandidat ketua di salah satu ekstrakulikuler wajib saat aku duduk di bangku sekolah menengah atas. Jujur, aku kaget. Kepercayaan diriku belum tinggi; relasiku pun masih terbatas.
Lalu sebuah kalimat keluar dari mulut seseorang yang menghampiriku. Beliau berkata, “Kalau saya sih, lebih suka pemimpin itu cowok ya. Kalau cewek kebanyakan pakai perasaan, gak cocok jadi pemimpin." Saat itu aku hanya diam, tapi di dalam hati rasanya seperti diremehkan habis-habisan. Harga diriku seperti diuji.
Dunia yang tidak menilai kapasitas berdasarkan gender. Dunia di mana perasaan tidak dianggap kelemahan, melainkan bagian dari empati yang memperkaya kepemimpinan. Bukankah perempuan juga berhak dihormati, didengar, dan dipercaya?
Aku membayangkan ruang yang memberi perempuan keberanian untuk menjadi pemimpin, setidaknya pemimpin bagi dirinya sendiri. Imaji ini mengingatkanku pada semangat R.A. Kartini bahwa perubahan lahir dari kesadaran dan pendidikan. Dunia yang kuimpikan bukan soal siapa yang lebih unggul, tapi tentang kesempatan yang setara untuk berkembang. Pemahaman itu juga kutemukan dari perjalanan pribadiku sendiri.
Pemungutan suara organisasi kala itu berlangsung dan aku terpilih menjadi ketua. Sejak saat itu hingga masa kuliah, aku mendapat kesempatan memimpin di berbagai ruang. Kalimat yang dulu terasa meragukan justru menjadi pengingat bahwa perempuan mampu memimpin dengan bijaksana ketika diberi ruang dan kepercayaan.
Pertama, membangun komunitas perempuan sebagai ruang aman untuk bertumbuh bersama. Komunitas ini dapat diwujudkan melalui ruang diskusi yang rutin diselenggarakan, baik secara luring di ruang komunitas maupun secara daring melalui platform digital. Dalam pertemuan tersebut, perempuan dapat berbagi pengalaman tentang perjalanan mereka di dunia pendidikan, organisasi, maupun pekerjaan; termasuk cerita tentang menghadapi stereotip, keraguan diri, atau tekanan sosial.
Selain diskusi terbuka, komunitas ini juga dapat menghadirkan berbagai kegiatan penguatan diri, seperti lokakarya pengembangan kepercayaan diri, kelas komunikasi dan public speaking, hingga sesi refleksi bersama yang membantu anggota mengenali potensi dirinya. Di luar kegiatan formal, komunitas juga dapat menyediakan ruang komunikasi harian melalui grup digital agar anggotanya tetap saling terhubung, memberi dukungan, berbagi informasi peluang, serta mengingatkan satu sama lain bahwa setiap proses tumbuh tidak harus dijalani sendirian.
Kedua, mengembangkan program mentorship kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif. Program ini dapat dirancang sebagai rangkaian pembelajaran yang mempertemukan peserta dengan mentor yang telah memiliki pengalaman dalam kepemimpinan, baik di bidang organisasi, pendidikan, maupun profesi. Melalui pertemuan berkala, mentor tidak hanya berbagi cerita perjalanan mereka, tetapi juga mendampingi peserta dalam melatih keterampilan memimpin, mengambil keputusan, serta mengelola tantangan yang mungkin muncul.
Program ini juga membuka ruang dialog yang melibatkan laki-laki sebagai mitra dalam memahami isu kesetaraan. Melalui diskusi bersama, studi kasus, atau simulasi kepemimpinan, peserta dapat belajar melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Dengan pendekatan yang kolaboratif, program ini diharapkan tidak hanya membentuk pemimpin yang percaya diri, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa kepemimpinan yang sehat lahir dari saling menghargai, bukan dari perbedaan gender.
Aku hanya mengharapkan lingkungan yang memberi ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan diri tanpa dibandingkan atau diremehkan. Tidak lagi ada label “lebih baik laki-laki” atau “lebih baik perempuan”, melainkan penilaian berdasarkan kemampuan dan integritas individu.
Pengalaman diremehkan dulu tidak menghentikanku, justru mendorongku tumbuh. Dan aku percaya setiap perempuan punya potensi yang sama untuk berdiri, memimpin, dan memberi dampak. Karena terkadang, kata-kata yang meragukan kita justru menjadi alasan terbesar untuk melangkah lebih jauh.
Generasi PINTAR
More Empathy, Less Apathy
Kontak Kami
© 2025. All rights reserved.
Yogyakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia
