Ketika Adek Meninggal, Kenapa Mama yang Disalahkan?
RANGKAI INSPIRASI #2
Septiani
3/8/20262 min read
Tahun ini memasuki tahun kelima adek gak bersama kami lagi.
Ingatan tentang hari kematian adek masih terasa segar seolah baru saja terjadi kemarin. Kadang, aku gak mau lagi mengingat hari itu, karena ada ingatan lain yang turut membayangiku setiap tahun.
“Kok bisa meninggal? Kamu gak becus sih mengurus anak. Itu, kan, tugas seorang ibu,” katanya.
Kalimat yang telah menyulut amarah hingga bersarang dalam diriku. Makin berusaha aku lupakan, makin amarah itu membesar. Aku marah dengan sistem patriarki. Marah dengan pandangan masyarakat yang memandang tugas mengasuh anak sebagai kewajiban seorang ibu. Marah pada kerabat yang menyalahkan mama atas kematian adek. Marah pada papa yang turut menyalahkan mama, sedangkan gak pernah hadir dalam pengasuhan anak.
Dunia yang gak akan memandang pengasuhan anak sebagai kewajiban perempuan, tapi dilakukan bersama dengan laki-laki sebagai pasangannya. Juga dunia yang ramah untuk ibu yang kehilangan anaknya. Dengan gak menyalahkan dan menyudutkan ibu, tapi hadir sebagai support system supaya seorang ibu bisa berduka dengan baik dan tidak menyalahkan dirinya terus-terusan. Duka bisa dilewati bersama sehingga ibu gak merasa seorang diri dan kehilangan dirinya sendiri.
Karena membuka kembali ingatan yang ingin aku kubur sedalam mungkin rasanya gak mudah. Tapi, kisah gak akan menjadi apa-apa kalau dipendam saja, kan. Maka, aku memberanikan diri mengingat hari itu lagi. Mungkin saja ada yang mengalami seperti yang mama alami. Aku menuliskan ini untuk menjadi kekuatan bagi perempuan yang memilih menjadi seorang ibu dan mengalami hal yang sama. Aku ingin menjadi seseorang yang tidak lagi diselimuti oleh amarah. Aku ingin mengingat hari itu dengan kondisi batin yang lebih tenang.
Dengan begitu, aku bisa membangun ruang aman bagi mama dan ibu-ibu lainnya untuk bercerita dan berdiskusi. Jadi, kalau suatu hari mereka disalahkan (seperti yang dialami oleh ibuku), mereka sudah bisa speak up untuk diri mereka sendiri.
Terutama untuk ibu-ibu lainnya yang masih menganggap kalau mengasuh anak hanya kewajibannya seorang.
Aku mau bilang pada semua orang, pengasuhan anak itu dilakukan bersama-sama. Kedua orang tua hadir bersama mengasuh anak. Kalau orang-orang sadar dan berpikir seperti ini, aku yakin imajiku akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.
Terima kasih sudah membaca kisah ini. Semoga akan ada dunia yang lebih baik suatu hari nanti. Mari kita wujudkan dunia yang lebih baik itu bersama!
Generasi PINTAR
More Empathy, Less Apathy
Kontak Kami
© 2025. All rights reserved.
Yogyakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia
