Dear Pemerintah, kata siapa dolar tidak berpengaruh buat warga desa? Sebagai perempuan sandwich generation, merasa tercekik
RANGKAI INSPIRASI #3
Anggi Widi Shafira
8/27/20262 min read


Aku bekerja dan tinggal di Surabaya, sementara ibuku memilih tinggal di Blora, Jawa Tengah. Rutinitasku sebagai perempuan yang termasuk sandwich generation sudah kulakukan sejak 2020, karena ibuku sudah tidak bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Selama bertahun-tahun aku bisa mengalokasikan dana untuk kebutuhan yang pas dan tidak melebihi jumlah pemasukanku, dengan tetap berbelanja di Surabaya saat itu.
Sejak ibu pindah ke Blora tahun 2025 lalu, aku rutin belanja di Blora. Hal itu sangat membantuku karena harga kebutuhan pokok di sana relatif lebih murah dibandingkan dengan Surabaya, mulai dari sembako, perlengkapan rumah, sampai skincare. Efeknya lumayan banget, aku jadi bisa nambah alokasi buat menabung.
Sampai akhirnya…
Strategi tersebut tidak lagi mempan sejak Juni 2026, saat rupiah melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS, yang memicu kenaikan harga bahan pangan hingga skincare secara drastis di pasar tradisional maupun supermarket lokal.
Selisih harga antara Blora dan Surabaya yang dulunya mencapai Rp3.000 kini menyusut menjadi hanya Rp500 hingga Rp1.500 saja, terlebih dengan status Blora sebagai kawasan industri migas yang membuat biaya hidup lokalnya tergolong cukup tinggi.
Kondisi biaya hidup yang tinggi ini makin menekan daya beli warga lokal.
Seharusnya bazar pasar murah dapat diadakan secara rutin setiap bulan, dan dilaksanakan di waktu serta lokasi yang beragam. Saat ini kebanyakan perusahaan minimarket dan supermarket lokal milik swasta berinisiatif untuk melakukannya. Namun, sayangnya hal tersebut belum bisa dijangkau oleh semua orang. Dikarenakan ada kendala jarak tempuh.
Dampaknya adalah aku harus memangkas frekuensi pulang kampung, kembali melakukan belanja bulanan di Surabaya, dan mengambil lebih banyak side hustle demi menyeimbangkan pemasukan dengan pengeluaran.
Selisih harga jual yang sedikit membuatku berpikir lebih baik berbelanja bulanan di Surabaya saja, lalu mengirimkannya kepada Ibu di desa. Semua aku lakukan demi menghemat anggaran dan energiku agar lebih efektif. Namun, tindakanku itu belum menjadi solusi karena semenjak Juni 2026 aku kesulitan untuk mengalokasikan dana kebutuhan dari gaji utamaku.
Upah dari side hustle yang biasanya bisa digunakan untuk menambahkan sisa gajiku ke tabungan, kini akhirnya ikut menjadi anggaran utama untuk menutupi kebutuhan yang semakin mahal.
Kondisi ini makin berat karena aku terpaksa terus menambah beban kerja.
Saat ini, aku sudah mengerjakan dua hingga tiga side hustle, tetapi karena adanya keterbatasan skill. Sehingga ada banyak kesempatan side hustle bagus yang terlewat. Hal tersebut baiknya dibantu oleh pemerintah dengan mengadakan pelatihan gratis.
Agar perempuan yang menjadi sandwich generation seperti aku dan lainnya, dapat menambahkan pemasukan dari berbagai macam side hustle untuk bisa memenuhi kebutuhan di tengah kondisi ekonomi yang sedang mengalami inflasi.
Sebagai perempuan sandwich generation, aku tidak bisa menghindari kewajiban tersebut. Hanya bisa terus berusaha, berdoa, dan berharap pemerintah hadir dengan solusi nyata.
Seperti mengendalikan pasokan kebutuhan lokal dan memberi subsidi distribusi logistik pengiriman, agar harga kebutuhan di desa seperti Blora tetap stabil. Sehingga biaya hidup masyarakat di desa tetap terjangkau. Adanya pasar murah bulanan di desa sangat membantu untuk menjaga daya beli keluarga.
Menyediakan program pelatihan untuk meningkatkan skill secara gratis berbasis sertifikasi. Dengan adanya pelatihan ini, aku dan perempuan lainnya yang memiliki nasib sama terhubung langsung dengan peluang freelance lainnya agar kami bisa meningkatkan pendapatan.
Harapanku, pemerintah bisa hadir untuk mewujudkan kesetaraan dan akses ekonomi yang inklusif.
Berdasarkan laporan terbaru Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR), 47,65% pekerja perempuan Indonesia merupakan sandwich generation, baik yang lajang maupun yang sudah berkeluarga. Fakta ini membuktikan bahwa ternyata masih banyak orang muda yang bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya.
Oleh karena itu, aspirasi yang sudah aku sampaikan, akan sangat berharga untuk aku dan perempuan pekerja lainnya, agar bisa menata masa depan yang lebih layak.
Foto: Canva/DesignPress
Generasi PINTAR
More Empathy, Less Apathy
Kontak Kami
© 2025. All rights reserved.
Yogyakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia
