Dear Pemerintah DIY, tiba saatnya agar bus Trans Jogja (TJ) tak lagi menjadi “kandang binatang”
RANGKAI INSPIRASI #3
Penulis Anonim
9/2/20263 min read


As a public service, tak cukup nyaman rasanya mendapati berbagai umpatan binatang kaki empat di dalam bus. Aku tahu bahwa mungkin itu merupakan wujud ekspresi persahabatan—perkoncoan —yang akrab dan hangat antara sopir dan kondektur.
Bus TJ merupakan ruang publik yang semestinya netral. Tak sepatutnya TJ dikooptasi oleh segelintir kalangan, meskipun sekadar soal pergaulan. Lagi pula, tak selalu keakraban mesti diluapkan dengan keringanan lisan dalam mengumpat nama-nama binatang kaki empat. Banyak cara untuk mengungkapkannya, terutama cara-cara yang lebih berterima untuk siapa saja.
Pagi itu, seperti biasa, aku menumpang TJ menuju tempat kerja.
Bus di jalur yang melewati tempat kerjaku memang jarang ramai, terutama saat pagi hari. Kadang cuma tiga orang, dua orang, bahkan seringkali cuma aku sendiri dari terminal. Kala itu, aku sendirian. Barangkali karena penumpang landai, Pak Sopir dan Pak Kondektur lantas agak santai.
Keduanya mengobrol ringan, khas orang Jogja kebanyakan. Pak Kondektur mendekat ke kursi Pak Sopir, sehingga bisa bercengkrama lebih akrab. Meski telah berdekatan, suara keduanya tetap terdengar lantang dari telingaku. Sementara, aku sendiri duduk di bangku favoritku: kursi penumpang paling belakang.
Aku tidak paham betul topik obrolan apa yang mereka bicarakan. Hanya saja, keduanya terlihat begitu akrab, karib, dan riang. Gelagak tawa berulang memburai dari mulut keduanya. Hingga tak terasa, nama animalia berkaki empat (baca: asu) perlahan meluncur dari mulut salah satu di antara keduanya. Jika aku tak luput, hewan itu pertama kali “lepas” dari mulut Pak Kondektur.
Alih-alih mengingatkan kondekturnya, Pak Sopir justru kedengaran bahagia dengan respons berupa hewan-hewan itu. Mungkin, keduanya melihat gaya berinteraksi mereka sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa dalam dunia perkawanan. Hanya saja mereka lupa, bahwa saat itu mereka sedang bekerja, tengah melayani, serta berada di dalam ruang publik yang semestinya inklusif.
Sebagai lulusan linguistik sekaligus warga biasa yang telah lama berlangganan TJ, aku berharap budaya “meng-angon hewan” di dalam TJ ini bisa disudahi.
Aku cuma khawatir, kalau tindakan seperti ini dibiarkan, pelakunya bakal beranggapan bahwa tindakannya merupakan hal lumrah dan berterima. Situasi bus yang lengang tak berarti bahwa orang bisa seenaknya. Bus tetaplah ruang publik yang mesti dihormati.
Lagi pula, tindakan tersebut berbahaya. Seandainya “hewan-hewan” itu lepas saat ada penumpang anak-anak, berarti mereka telah mengajari anak untuk mengumpat. Mereka memberi input negatif yang bisa saja menjadi bekal tak terlupakan di memori anak hingga dewasa kelak. Bagi TJ pun, hal itu bisa menggerus kepercayaan publik. Padahal, seperti disebut Ahmad Effendi (2024) di kanal mojok.co, TJ telah punya citra buruk (red flag). Sopirnya kerap ugal-ugalan. “Pokoknya mobat-mabit,” tulis Effendi.
That's why, sudah waktunya Pemda DIY bertindak.
Hanya kepada pemerintah lah aspirasi rakyat kecil ini bisa disampaikan. Sejauh ini, TJ telah menjadi transportasi pilihan banyak kalangan, terutama anak sekolah. Selain itu, banyak pula turis asing yang memanfaatkan TJ untuk mengunjungi berbagai lokasi wisata di DIY.
Sebagai langkah preventif, Pemda bisa memulai lewat strategi edukasi serupa latihan-latihan bagi petugas TJ, capacity building, atau semacamnya. Selain itu, langkah kuratif dapat diwujudkan dengan membuka layanan aduan (hotline) bagi penumpang jika menjumpai ada ujaran tak patut dari para pegawai TJ. Sejauh ini, layanan aduan itu sebetulnya telah tersedia. Hanya saja, tingkat aksesibilitas dan partisipasi penumpang terhadap keberadaan layanan itu belumlah sepenuhnya cetha wela-wela.
Karenanya, jangan sampai kepercayaan publik itu berkurang hanya karena perilaku satu atau dua orang pegawai TJ.
Aku percaya, bahwa selagi mau dan sadar untuk berbenah, bukan hal sulit bagi pengelola TJ untuk menyelesaikan keluhan ini. Toh, dengan berbenah, kita telah berupaya menyelamatkan dua generasi—generasi sekarang dan generasi mendatang—dari kecanduan “mengumbar hewan-hewan”. Pungkasannya, di kota yang punya reputasi pendidikan jempolan, kita tak perlu sedikit-sedikit mendengar ujaran tak senonoh bukan?
Sumber Referensi:
Ahmad Effendi, "Orang Solo Alami Culture Shock Saat Naik Trans Jogja: Armada Tak Layak Pakai, Rute Bikin Mumet, Sopirnya pun Red Flag. BST Masih Jauh Lebih Unggul," Mojok.co, 8 Februari 2024, https://mojok.co/liputan/orang-solo-alami-culture-shock-naik-trans-jogja-armada-tak-layak-pakai-rute-bikin-mumet-sopirnya-pun-red-flag/
Kamus Kosa Kata Bahasa Jawa:
Perkoncoan: hubungan persahabatan yang erat, bersifat kasual, dan relasi berlangsung setara
Asu: anjing, kata umpatan dalam bahasa Jawa
Angon: menggembala
Mobat-mabit: serba tak teratur, berantakan, ugal-ugalan
Cetha wela-wela: terlihat jelas, tampak jelas
Foto: Dokumentasi Penulis
Generasi PINTAR
More Empathy, Less Apathy
Kontak Kami
© 2025. All rights reserved.
Yogyakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia
