Belajar Memaknai Kepemimpinan di Tengah Ketimpangan

RANGKAI INSPIRASI #2

Salma Zahra Athirah

3/8/20263 min read

a woman sitting in a chair with a laptop
a woman sitting in a chair with a laptop

Halo, kenalin namaku Salma. Semasa sekolah, aku pernah dipercaya menjadi wakil ketua acara dalam sebuah kegiatan organisasi yang cukup besar. Dari awal, hampir semua tanggung jawab ada di pundakku mulai dari mengoordinasi anggota, menyusun rundown, hingga konsultasi dengan pembina. 

Partner-ku sebagai ketua memang selalu membalas pesan, tapi di lapangan? Dia nyaris tidak pernah terlihat. Aku tidak masalah bekerja ekstra, karena yang penting bagiku acaranya berjalan lancar. Tetapi ada kalanya ketika pikiranku lelah aku bertanya-tanya "Aku punya partner tapi kenapa rasa beratnya sendiri terus ya?"

Hari pelaksanaan tiba, dan aku cukup bangga karena acara berjalan lancar. Tapi rasanya ada yang ganjil saat media sekolah datang kemudian kamera diarahkan hanya ke partner-ku sang ketua. Ia tampil percaya diri, memaparkan konsep yang sebagian besar justru aku yang menyusun. Dalam beberapa kesempatan presentasi, dia di depan membacakan hasil dari laporan yang aku kerjakan selama semalaman.

Sayangnya, sistem tersebut memang normal di sekolahku. Sistem yang otomatis menempatkan laki-laki sebagai ketua dan perempuan sebagai wakil dalam posisi setiap organisasi. Saat itu, aku tidak marah, tetapi merasa sedih dan mempertanyakan keadilan dari sistem tersebut.

Bukannya aku ingin menjadi ketua ataupun posisi tinggi, aku hanya ingin sebuah posisi diberikan berdasarkan kemampuan, usaha, dan kapabilitas, bukan berdasarkan status gender. Aku tidak membutuhkan pujian atau pengakuan tetapi aku hanya ingin dihargai karena aku dianggap mampu, karena aku bekerja, dan karena aku berkontribusi.

Sebuah dunia di mana perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang setara layaknya manusia. Dunia di mana perempuan tidak dinilai dari status gender, melainkan dari kemampuan dan integritasnya.

Aku membayangkan dunia di mana perempuan tidak selalu berdiri di balik bayangan, tetapi dapat bersinar dengan cahaya mereka sendiri. Dunia di mana prestasi tidak perlu dipertanyakan hanya karena siapa yang mencapainya. Dunia di mana setiap orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan, pengalaman, dan kesempatan.

Aku tidak meminta perempuan untuk selalu diutamakan. Aku hanya ingin perempuan dipandang sebagai individu yang mampu berdiri sendiri, memimpin, berdaya dan mampu mengambil keputusan. Aku tidak ingin diapresiasi secara cuma-cuma, tetapi aku ingin dihargai karena kerja keras dan usaha yang nyata.

Dulu aku diam dan aku sadar tidak dapat mengubah sistem di sekolahku pada masa itu. Tetapi aku bisa mengubah apa yang menjadi kendaliku di masa sekarang, dimulai dari lingkup terkecil yaitu organisasi-organisasi yang aku ikuti. 

Pengalaman pahit itu justru menjadi tamparan sekaligus guru berharga bagiku. Kini, ketika dipercaya memegang tanggung jawab, baik sebagai ketua maupun anggota, aku berkomitmen untuk memastikan pembagian kerja, tanggung jawab, dan pengelompokan tugas dilakukan secara setara sejak awal.

Aku belajar untuk bersikap lebih tegas dan berani memberikan teguran jika ada pengerjaan yang tidak sesuai dengan porsinya. Aku ingin menanamkan budaya bahwa apresiasi harus diberikan berdasarkan meritokrasi, pada usaha, kerja keras, dan prestasi nyata, bukan hanya pada jabatan struktural semata.

Lebih dari itu, aku juga berusaha membangun sistem transparansi yang sederhana di setiap organisasi yang aku ikuti. Jika ada ketimpangan atau ketidakjelasan peran pada anggota yang terlihat, aku akan mendorong adanya diskusi terbuka dan pelaporan kepada ketua. Dengan begitu, jika suatu saat ada pihak yang merasa kontribusinya tidak terlihat, atau jika ada pihak lain yang mengambil porsi berlebih tanpa kerja nyata, terdapat ruang untuk meluruskannya secara adil.

Pada akhirnya, bukan hanya untuk melindungi diriku sendiri dari pengalaman serupa, tapi ini adalah langkah kecilku untuk memastikan lingkungan organisasi menjadi tempat yang aman dan adil bagi semua orang tanpa terkecuali. Karena aku percaya, dunia yang adil dimulai dari diri kita sendiri ke sekitar, melalui keberanian untuk memastikan setiap kontribusi dihargai setara. Aku ingin semakin banyak orang yang sadar bahwa sesuatu seharusnya dicapai karena kemampuan dan kapabilitas.

Aku ingin melihat lebih banyak perempuan hebat yang mendapatkan kesempatan yang selayaknya didapatkan, tanpa harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk diakui setara. Aku berharap suatu hari nanti perempuan tidak lagi dipandang sebagai sosok yang lemah ataupun perlu dikasihani. Perempuan seharusnya dilihat sebagai pribadi yang sama kuatnya, sama berdayanya, dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Ia mampu memimpin, mengambil keputusan, serta mencapai hal-hal besar melalui kemampuan dan keteguhannya.

Aku percaya, dunia yang adil bukanlah mimpi yang mustahil. Dunia yang adil tersebut dapat dibangun bersama, dimulai dari diri kita sendiri dan orang terdekat melalui tindakan kecil kita.

Terima kasih telah membaca imajiku. Semoga suatu hari nanti, imaji ini benar-benar bisa kita wujudkan.